JP VARIAN KASHIRA ALPHARD

230110070057

UTS MANAJEMEN MUTU TERPADU

1. A. Histamin

Adalah senyawa jenis amin yang terlibat dalam tanggapan imun lokal,  selain itu senyawa ini juga berperan dalam pengaturan fungsi fisiologis di lambung dan sebagai neurotransmitter

B. putresin

Adalah senyawa diamin yang diproduksi oleh pseudomonad dan juga  juga digunakan sebagai indikator kebusukan ikan

C. kadaverin,

Merupakan diamin yang juga digunakan sebagai indikator kebisukan ikan

D. trimetil amin,

Merupakan reaksi penting dari kerusakan ikan secara enzimatis, biasanya terdapat pada ikan laut dan tidak terdapat pada ikan tawar

E. amnonia,

Adalah gas alkalin yang tidak berwarna dan mempunyai daya iritasi tinggi yang dihasilkan selama dekomposisi bahan organik oleh deaminasi

F. H2S,

Adalah gas beracun yang sangat berbahaya. Dalam waktu singkat gas ini dapat melumpuhkan sistem pernafasan dan dapat mematikan seseorang yang menghirupnya. Pada konsentrasi rendah, H2S memiliki bau seperti telur busuk, namun pada konsentrasi tinggi, bau telur busuk tidak tercium lagi, karena secara cepat gas H2S melumpuhkan sistem syaraf dan mematikan indera penciuman

G. alkohol

Suatu cairan yang tidak berwarna, mudah menguap, pedas atau tajam, cairan (C2H5OH), yang dapat terbakar seperti bensin, digunakan di industri dan dalam obat obatan. alkohol diperoleh atas peragian/fermentasi madu, gula, sari buah atau umbi-umbian. Dan memiliki gugus fungsi yang spesifik

H. senyawa keton

Adalah suatu senyawa organik yang mempunyai sebuah gugus karbonil (C=O) terikat pada dua gugus alkil, dua gugus aril atau sebuah alkil dan sebuah aril.

I. Fase Eksponensial

Adalah fase dimana mikroba pembusuk telah tumbuh pada titik maksimal, dan ikan tersebut tidak lagi layak untuk dikonsumsi.

2. Kekerasan

Tingkat ksegaran ikan dapat ditentukan dengan melihat kekerasan ikan dimana biasanya ikan telah memasuki fase rigormortis dan keseluruhan otot di tubuh menjadi kaku

Elastisitas

Selain dapat ditentukan dari tingkat kekerasan kesegaran ikan juga dapat ditentukan dari elastisitasnya. Apabila ikan yang masih segar apabila ditekan maka dagingnya akan kembali seperti semula atau masih elastis, begitu juga seterusnya sampai dengan apabila daging ikan ditekan dan tidak kembali seperti semula maka ikan tersebut telah busuk dan tidak layak dikonsumsi lagi.

Susut bobot

Susut bobot ikan terjadi dari fase pro rigormortis sampai dengan fase rigormortis, dimana otot ikan mengalami penusutan. Dan pada fase post rigormortis tidak lagi terjadi penyusutan otot. Susut bobot erat kaitannya dengan proses denaturasi, dehidrasi dan perombakan protein oleh enzim hasil sekresi bakteri yang menyebabkan fungsi protein sebagai pengikat cairan tubuh menjadi menurun dan daging ikan mengalami kehilangan carian.

Kadar air

Kadar air yang terkandung pada ikan yang telah mati sebaiknya dikurangi dengan cara seperti penggaraman / pengasisnan, dijemur, atau menggunakan udara panas. Apabila kadar air semakin mengurang maka kebusukan ikan dapat diperlambat karena semakin banyak kadar air pada tubuh ikan maka semakin banyak bakteri yang terkandung.

Populasi mikroba pembusuk

Populasi mikroba pembusuk pada ikan maksimal adalah 107, dimana dengan jumlah populasi tersebut ikan masih dapat dikonsumsi. Apabila produk perikanan yang akan dieksport maka jumlah populasi mikroba pembusuk maksimal adalah 105.

Kenampakan

Uji organoleptik untuk kenampakan dapat dilihat dari beberapa aspek yaitu kenampakan mata, kenampakan insang dan kenampakan lendir pada permukaan badan.

Kenampakan mata patin merupakan parameter yang paling mudah untuk diamatai, apabila mata patin masih cerah dan pupil menonjol itu menunjukkan bahwa ikan masih segar, dan apabila telah kusam maka ikan sudah tidak segar lagi.

Kenampakan insang, insang merupakan salha satu sumber bakteri pada tubuh ikan, apabila kenampakan insang masih berwarna merah cerah, tapis insang masih berjarak itu menunjukkan bahwa ikan masih pada tingkat segar, dan apabila insang telah berwarna kecoklatan dan tapis insang telah berkumpul itu menandakan bahwa ikan sudah tidak segar lagi.

A. Tidak segar                              B. Segar

Kenampakan lendir, apabila lendir pada tubuh ikan masih sedikit itu menandakan bahwa ikan masih segar, dan apabila telah terdapat banyak lendir maka tingkat kesegaran ikan telah menurun.

Aroma

Pada produk perikanan apabila ikan masih tercium jelas aroma ikan maka itu menandakan ikan masih segar, dan apbila telah tercium bau busuk dan tidak lagi lagi ada aroma ikan maka itu menandakan ikan telah busuk.

Tekstur

Tekstur merupakan salah satu komponen penting pada produk perikanan, tekstur dapat dinilai dari warna yang menarik, dan bentuk yang masih baik dan belum cacat karena benda asing lainnya.

Cita rasa

Citarasa pada hasil perikanan sangat menentukan tingkat ketertarikan konsumen. Apabila citarasa yang dihasilkan kurang baik maka selera untuk mengkonsumsi pun akan berkurang.

3. Ringkasan Produk Kaki naga

Deskripsi produk : produk perikanan komabako, yang bahan utama produk ini adalah udang yang dagingnya telah digiling dan diberi adonan tepung lalu ditusk dengan potongan sumpit

Bahan Baku    : Daging udang yang telah dibersihkan dan digiling, tepung tapioca, telur dan maisena

Konsumen       : Masyarakat Umum

Cara Penyimpanan      : Pada suhu rendah

Cara Distribusi            : Dijual ke toko-toko atau langsung kepada konsumen

Cara Mengkonsumsi   : Digoreng lalu dimakan

Alur Proses


Tahapan proses

Proses Pengolahan      :

Tahap 1  Penggilingan daging udang yang telah dibersihkan.

Tahap 2  Pengadonan (Penambahan tepung terigu, maizena, susu, telur dan bumbu)

Tahap 3  Pencetakan (dibuat bulat)

Tahap 4 Perebusan (dimasak 15-30 menit menggunakan air dan minyak sayur)

Tahap 5 Penirisan

Tahap 6 Penggulingan dalam batter

Tahap 7 Dicelupkan ke dalam telur kocok serta Pelumuran dalam tepung roti dan penusukan

potongan sumpit

Tahap 8  Pengemasan

Tahap 9 Jadi Kaki Naga dan siap untuk didistribusikan

Identifikasi bahaya dan pencegahannya

NO Alur Proses Jenis Bahaya Cara Pencegahan
1 Penggilingan daging udang yang telah dibersihkan - Bahaya Fisik :

Sering terdapatnya cangkang udang yg belum terbuang

- Bahaya Kimiawi :

Bahan baku dapat mengandung bahan kimia yang berbahaya

- Bahaya biologis :

Bahan baku telah mengandung mikroba patogen berkaitan dengan kontaminasi

- Lebih memperhatikan dalam proses pembersihan bahan baku sebelum diproses lebih jauh

- Pemilihan supplier dan pengawasan bahan baku.

- Pemilihan supplier dan pengawasan bahan baku.

2 Pengadonan (Penambahan tepung terigu, maizena, susu, telur dan bumbu) - Bahaya Fisik :

Bahan baku dapat mengandung bahan asing yang berbahaya (HEM/Hazardous Extragenous Material) seperti kaca, logam, plastik dan kayu.

Bahaya Kimiawi :

Proses pengadonan biasanya ada tambahan air, dan air kemungkinan tercemar logam berat atau bahan kimia organik berbahaya

Bahaya Biologis :

Bahan baku untuk adonan telah expired atau mengandung bakteri patogen, virus dan jamur

- Pemilihan supplier dan memperhatikan secara detail bahan baku yang akan digunakan.

- Memastikan bahwa campuran air yang digunakan tidak tercemar oleh logam berat

- Memeriksa dengan baik semua bahan baku adonan yang akan digunakan

3 Pencetakan (dibuat bulat) Bahaya Fisik :

Cetakan yang digunakan mengandung bahan berbahaya seperti kaca, logam plastik dll

Bahaya Kimiawi :

Pada tangan pekerja atau alat yang digunakan terdapat kandungan bahan kimia berbahaya seperti antibiotik atau logam berat

-Bahaya Bilogis :

Bahaya biologis termasuk bakteri, virus atau parasit berbahaya terdapat pada bahan baku

- memastikan bahwa cetakan yang digunakan telah terhindar dari bahan berbahaya tersebut

- Pengawasan dan kebersihan harus sangat diperhatikan

- Memperhatikan bahan baku dengan pengawasan yang baik.

4 Perebusan (dimasak 15-30 menit menggunakan air dan minyak sayur) Bahaya Fisik :

Media perebusan yang digunakan mengandung bahan berbahaya seperti kaca, logam plastik dll

Bahaya Kimiawi :

Air yang digunakan kemungkinan tercemar logam berat atau bahan kimia organik berbahaya

Bahaya Biologis :

Minyak sayur yang digunakan telah expired dan terkandung bakteri patogen

- memastikan bahwa media perebusan yang digunakan telah terhindar dari bahan berbahaya tersebut

-  Memastikan bahwa air yang digunakan tidak tercemar oleh logam berat dan bahan kimia lainnya.

- memperhatikan bahwa minyak yang digunakan masih baik

5 Penirisan Bahaya Fisik :

Media yang digunakan telah terkontaminasi dengan bahan asing seperti rambut, debu dll

Bahaya Kimiawi :

Media penirisan telah terkontaminasi bahan kimia yang berbahaya

Bahaya Biologis :

Terdapat bakteri, jamur atau virus pada media penirisan

- memastikan bahwa media penisrisan telah steril dari benda asing

- Pengawasan terhadap media penirisan harus baik

- memastikan bahwa media yang akan digunakan telah steril dari bakteri, jamur maupun virus

6 Penggulingan dalam batter - Bahaya Fisik :

Adonan yang digunakan mengandung bahan berbahaya seperti kaca, logam plastik dll

- Bahaya Kimiawi :

Pada tangan pekerja atau alat yang digunakan terdapat kandungan bahan kimia berbahaya seperti antibiotik atau logam berat

Bahaya Biologis :

Bahaya biologis termasuk bakteri, virus atau parasit berbahaya terdapat pada adonan

-  memastikan bahwa adonan yang digunakan telah terhindar dari bahan berbahaya tersebut

-  Pengawasan dan kebersihan harus sangat diperhatikan

- Memastikan bahwa adonan tidak terkontaminasi bakteri, virus maupun jamur

7 Dicelupkan ke dalam telur kocok serta Pelumuran dalam tepung roti dan penusukan

potongan sumpit

Bahaya Fisik :

Seluruh bahan baku terkontaminasi debu dan benda asing

Bahaya kimiawi :

Seluruh bahan baku dan potongan sumpit terdapat kandungan kimia berbahaya

Bahaya biologis :

Pada potongan sumpit terdapat jamur atau bakteri

- Memperhatikan seluruh proses dan bahan baku tidak terkontaminasi benda asing

- Pemilihan supplier bahan baku dan sumpit harus baik.

- Membersihkan terlebih dahulu dan memastikan tidak rekontaminasi oleh jamur dan bakteri

8 Pengemasan - Bahaya Fisik :

Terdapatnya benda asing pada kemasan yang akan digunakan

Bahaya Kimiawi :

Kemasan mengandung logam berat atau bahan kimia berbahaya yang dapat merusak produk

Bahaya Biologis :

Kemasan mengandung jamur atau bakteri

- Memastikan bahwa kemasan yang akan digunakan tidak terdapt benda asing

- Jangan mengemas pada keadaan produk masih panas, dan memastikan kemasan produk aman.

- Menjaga dan mesnterilkan kemasan yang akan digunakan dar jamur maupun bakteri

9 Jadi Kaki Naga dan siap untuk didistribusikan

Analisis Resiko Bahaya

NO Bahan / Ingredien Kelompok Bahaya Kategori Resiko

0/I/II/III/IV/V/VI

A B C D E F
1 Udang III
2 Tepung Tapioka II

Titik Kendali Kritis

Untuk menentukan titik kendali kritis identifikasi titik kendali kritis ditentukan berdasarkan pohon keputusan titik kendali kritis. Pada tahap ini semua bahaya yang berpengaruh terhadap keamanan kaki naga  harus diidentifikasi mulai dari pemilihan bahan baku, penggilingan daging yang sudah dibersihkan, pengadonan, pencetakan, perebusan,penirisan, hingga pengemasan dan pendistribusian.

1. Pemilihan bahan baku.

Resiko yang mungkin timbul dari tahapan ini adalah bahan baku yang digunakan mengandung bakteri patogen. Pengendalian kritis dari pemilihan bahan baku adalah pemilihan supplier yang sudah terjamin dari segi kualitasnya.

2. Penggilingan daging yang sudah dibersihkan.

Resiko fisik yang sangat mungkin terjadi pada proses ini adalah daging yang telah digiling terkontaminasi oleh benda asing yang dapat membuat bahan baku berada pada titik kendali kritis, pengendaliannya adalah seluruh hasil gilingan tersebut digiling ditempat yang steril dan pastikan bahwa alat-alat yang digunakan bersih dari benda asing seperti rambut, kertas maupun potongan kayu.

3. Pencetakan

Resiko yang dapat timbul dari pencetakan adalah alat yang digunakan untuk mencetak atau pekerja yang melakukan pencetakan kurang steril sehingga dapat membuat bahan baku produk yang telah dicetak mengalami titik kritis. Pengendalian yang dapat dilakukan adalah memastikan pekerja dan alat yang digunakan telah benar-benar steril sehingga tidak mencemari atau merusak bahan baku yang telah dicetak.

4. Perebusan

Resiko yang dapat terjadi perebusan adalah air yang digunakan untuk merebus telah tercemar oleh logam berat atau bahan kimia berbahaya. Pengendaliannya adalah air yang digunakan untuk merebus haruslah air yang bersih dan bukan air yang telah ditamgpung beberapa hari pada bak penampungan, karena biasanya air yang telah ditampung telah tercemar baik dari logam berat maupun bahan kimia berbahaya lainnya.

5. Penirisan

Pada proses penirisan resiko yang dapat terjadi adalah pada saat ditirisakan adanya binatang ataupun baik media maupun tempat penirisan kurang bersih dari benda asing. Pengendalian kritisnya adalah dengan cara memastikan bahwa tempat yang digunakan selalu dijaga kesterilannya dan selalu mengecek pada saat ditiriskan, jangan sampai tidak terkontrol.

6. Penggulingan dalam batter

Resiko yang dapat terjadi pada proses ini adalah campuran bahan baku atau batter/mentega yang digunakan telah expired. Pengendalian kritisnya adalah membeli bahan tambahan yang masih berkualitas baik dan layak pakai serta pemilihan supplier yang baik.

7. Dicelupkan ke dalam telur kocok serta Pelumuran dalam tepung roti dan penusukan  potongan sumpit

resiko yang dapat timbul dari proses ini adalah baik tepung roti maupun potongan sumpit yang digunakan telah terkontaminasi oleh benda asing. Pengendalian kritisnya adalah dengan cara memilih supplier dan bahan tambahan dengan selektif dan menggunakan potongan sumpit yang masih baru bukan bekas.

8. Pengemasan

Pada proses pengemasan salah satu resiko yang dapat terjadi adalah kemasan yang akan digunakan mengandung bahan kimia berbahaya. Pengendaliannya dalah menggunakan kemasan yang aman dan dapat melindungi produk tersebut dari benda asing maupun bakteri yang dapat menyerang, serta memastikan bahwa kemasan telah tertutup rapat agar produk dapat bertahan lebih lama.

Titik Kendali Kritis

Untuk menentukan titik kendali kritis identifikasi titik kendali kritis ditentukan berdasarkan pohon keputusan titik kendali kritis. Pada tahap ini semua bahaya yang berpengaruh terhadap keamanan kaki naga  harus diidentifikasi mulai dari pemilihan bahan baku, penggilingan daging yang sudah dibersihkan, pengadonan, pencetakan, perebusan,penirisan, hingga pengemasan dan pendistribusian.

1. Pemilihan bahan baku.

Resiko yang mungkin timbul dari tahapan ini adalah bahan baku yang digunakan mengandung bakteri patogen. Pengendalian kritis dari pemilihan bahan baku adalah pemilihan supplier yang sudah terjamin dari segi kualitasnya.

2. Penggilingan daging yang sudah dibersihkan.

Resiko fisik yang sangat mungkin terjadi pada proses ini adalah daging yang telah digiling terkontaminasi oleh benda asing yang dapat membuat bahan baku berada pada titik kendali kritis, pengendaliannya adalah seluruh hasil gilingan tersebut digiling ditempat yang steril dan pastikan bahwa alat-alat yang digunakan bersih dari benda asing seperti rambut, kertas maupun potongan kayu.

3. Pencetakan

Resiko yang dapat timbul dari pencetakan adalah alat yang digunakan untuk mencetak atau pekerja yang melakukan pencetakan kurang steril sehingga dapat membuat bahan baku produk yang telah dicetak mengalami titik kritis. Pengendalian yang dapat dilakukan adalah memastikan pekerja dan alat yang digunakan telah benar-benar steril sehingga tidak mencemari atau merusak bahan baku yang telah dicetak.

4. Perebusan

Resiko yang dapat terjadi perebusan adalah air yang digunakan untuk merebus telah tercemar oleh logam berat atau bahan kimia berbahaya. Pengendaliannya adalah air yang digunakan untuk merebus haruslah air yang bersih dan bukan air yang telah ditamgpung beberapa hari pada bak penampungan, karena biasanya air yang telah ditampung telah tercemar baik dari logam berat maupun bahan kimia berbahaya lainnya.

5. Penirisan

Pada proses penirisan resiko yang dapat terjadi adalah pada saat ditirisakan adanya binatang ataupun baik media maupun tempat penirisan kurang bersih dari benda asing. Pengendalian kritisnya adalah dengan cara memastikan bahwa tempat yang digunakan selalu dijaga kesterilannya dan selalu mengecek pada saat ditiriskan, jangan sampai tidak terkontrol.

6. Penggulingan dalam batter

Resiko yang dapat terjadi pada proses ini adalah campuran bahan baku atau batter/mentega yang digunakan telah expired. Pengendalian kritisnya adalah membeli bahan tambahan yang masih berkualitas baik dan layak pakai serta pemilihan supplier yang baik.

7. Dicelupkan ke dalam telur kocok serta Pelumuran dalam tepung roti dan penusukan  potongan sumpit

resiko yang dapat timbul dari proses ini adalah baik tepung roti maupun potongan sumpit yang digunakan telah terkontaminasi oleh benda asing. Pengendalian kritisnya adalah dengan cara memilih supplier dan bahan tambahan dengan selektif dan menggunakan potongan sumpit yang masih baru bukan bekas.

8. Pengemasan

Pada proses pengemasan salah satu resiko yang dapat terjadi adalah kemasan yang akan digunakan mengandung bahan kimia berbahaya. Pengendaliannya dalah menggunakan kemasan yang aman dan dapat melindungi produk tersebut dari benda asing maupun bakteri yang dapat menyerang, serta memastikan bahwa kemasan telah tertutup rapat agar produk dapat bertahan lebih lama.

ALUR PROSES





Decision Tree

Pohon Keputusan Penentuan Titik Kendali Kritis



Analisis Bahaya

Identifikasi bahaya dan pencegahannya

NO Alur Proses Jenis Bahaya Cara Pencegahan
1 Penggilingan daging udang yang telah dibersihkan - Bahaya Fisik :Sering terdapatnya cangkang udang yg belum terbuang- Bahaya Kimiawi :Bahan baku dapat mengandung bahan kimia yang berbahaya

- Bahaya biologis :

Bahan baku telah mengandung mikroba patogen berkaitan dengan kontaminasi

- Lebih memperhatikan dalam proses pembersihan bahan baku sebelum diproses lebih jauh- Pemilihan supplier dan pengawasan bahan baku.- Pemilihan supplier dan pengawasan bahan baku.
2 Pengadonan (Penambahan tepung terigu, maizena, susu, telur dan bumbu) - Bahaya Fisik :Bahan baku dapat mengandung bahan asing yang berbahaya (HEM/Hazardous Extragenous Material) seperti kaca, logam, plastik dan kayu.Bahaya Kimiawi :Proses pengadonan biasanya ada tambahan air, dan air kemungkinan tercemar logam berat atau bahan kimia organik berbahaya

Bahaya Biologis :

Bahan baku untuk adonan telah expired atau mengandung bakteri patogen, virus dan jamur

- Pemilihan supplier dan memperhatikan secara detail bahan baku yang akan digunakan.- Memastikan bahwa campuran air yang digunakan tidak tercemar oleh logam berat- Memeriksa dengan baik semua bahan baku adonan yang akan digunakan
3 Pencetakan (dibuat bulat) Bahaya Fisik :Cetakan yang digunakan mengandung bahan berbahaya seperti kaca, logam plastik dllBahaya Kimiawi :Pada tangan pekerja atau alat yang digunakan terdapat kandungan bahan kimia berbahaya seperti antibiotik atau logam berat

-Bahaya Bilogis :

Bahaya biologis termasuk bakteri, virus atau parasit berbahaya terdapat pada bahan baku

- memastikan bahwa cetakan yang digunakan telah terhindar dari bahan berbahaya tersebut- Pengawasan dan kebersihan harus sangat diperhatikan- Memperhatikan bahan baku dengan pengawasan yang baik.
4 Perebusan (dimasak 15-30 menit menggunakan air dan minyak sayur) Bahaya Fisik :Media perebusan yang digunakan mengandung bahan berbahaya seperti kaca, logam plastik dllBahaya Kimiawi :Air yang digunakan kemungkinan tercemar logam berat atau bahan kimia organik berbahaya

Bahaya Biologis :

Minyak sayur yang digunakan telah expired dan terkandung bakteri patogen

- memastikan bahwa media perebusan yang digunakan telah terhindar dari bahan berbahaya tersebut-  Memastikan bahwa air yang digunakan tidak tercemar oleh logam berat dan bahan kimia lainnya.- memperhatikan bahwa minyak yang digunakan masih baik
5 Penirisan Bahaya Fisik :Media yang digunakan telah terkontaminasi dengan bahan asing seperti rambut, debu dllBahaya Kimiawi :Media penirisan telah terkontaminasi bahan kimia yang berbahaya

Bahaya Biologis :

Terdapat bakteri, jamur atau virus pada media penirisan

- memastikan bahwa media penisrisan telah steril dari benda asing- Pengawasan terhadap media penirisan harus baik- memastikan bahwa media yang akan digunakan telah steril dari bakteri, jamur maupun virus
6 Penggulingan dalam batter - Bahaya Fisik :Adonan yang digunakan mengandung bahan berbahaya seperti kaca, logam plastik dll- Bahaya Kimiawi :Pada tangan pekerja atau alat yang digunakan terdapat kandungan bahan kimia berbahaya seperti antibiotik atau logam berat

Bahaya Biologis :

Bahaya biologis termasuk bakteri, virus atau parasit berbahaya terdapat pada adonan

-  memastikan bahwa adonan yang digunakan telah terhindar dari bahan berbahaya tersebut-  Pengawasan dan kebersihan harus sangat diperhatikan- Memastikan bahwa adonan tidak terkontaminasi bakteri, virus maupun jamur
7 Dicelupkan ke dalam telur kocok serta Pelumuran dalam tepung roti dan penusukanpotongan sumpit Bahaya Fisik :Seluruh bahan baku terkontaminasi debu dan benda asingBahaya kimiawi :Seluruh bahan baku dan potongan sumpit terdapat kandungan kimia berbahaya

Bahaya biologis :

Pada potongan sumpit terdapat jamur atau bakteri

- Memperhatikan seluruh proses dan bahan baku tidak terkontaminasi benda asing- Pemilihan supplier bahan baku dan sumpit harus baik.- Membersihkan terlebih dahulu dan memastikan tidak rekontaminasi oleh jamur dan bakteri
8 Pengemasan - Bahaya Fisik :Terdapatnya benda asing pada kemasan yang akan digunakanBahaya Kimiawi :Kemasan mengandung logam berat atau bahan kimia berbahaya yang dapat merusak produk

Bahaya Biologis :

Kemasan mengandung jamur atau bakteri

- Memastikan bahwa kemasan yang akan digunakan tidak terdapt benda asing- Jangan mengemas pada keadaan produk masih panas, dan memastikan kemasan produk aman.- Menjaga dan mesnterilkan kemasan yang akan digunakan dar jamur maupun bakteri
9 Jadi Kaki Naga dan siap untuk didistribusikan

Analisa Resiko Bahaya

NO Bahan / Ingredien Kelompok Bahaya Kategori Resiko0/I/II/III/IV/V/VI
A B C D E F
1 Udang III
2 Tepung Tapioka II

Nama Produk  : Kaki Naga Udang

Bahan Baku                      : Daging udang yang telah dibersihkan dan digiling, tepung tapioca, telur dan maisena

Konsumen                       : Masyarakat Umum

Cara Penyimpanan       : Pada suhu rendah

Cara Distribusi               : Dijual ke took-toko atau langsung kepada konsumen

Cara Mengkonsumsi    : Digoreng lalu dimakan

Proses Pengolahan       :

Tahap 1.  Penggilingan daging udang yang telah dibersihkan.

Tahap 2.  Pengadonan (Penambahan tepung terigu, maizena, susu, telur dan bumbu)

Tahap 3.  Pencetakan (dibuat bulat)

Tahap 4. Perebusan (dimasak 15-30 menit menggunakan air dan minyak sayur)

Tahap 5. Penirisan

Tahap 6. Penggulingan dalam batter

Tahap 7. Dicelupkan ke dalam telur kocok serta Pelumuran dalam tepung roti dan penusukan

potongan sumpit

Tahap 8. Pengemasan

Tahap 9.  Jadi Kaki Naga dan siap untuk didistribusikan

NO Bahan / Ingredien Kelompok Bahaya Kategori Resiko

0/I/II/III/IV/V/VI

A B C D E F
1 Udang III
2 Tepung Tapioka

II

KEL. Bahaya KARAKTERISTIK
A Kelompok makanan KHUSUS yang terdiri dari makanan NON STERIL yang ditujukan untuk konsumen beresiko tinggi, seperti bayi, balita, orang sakit/pasien, orang tua, ibu hamil, ibu menyusui, usia lanjut
B Makanan yang mengandung bahan / ingridien yang SENSITIF terhadap bahaya biologis, kimia, atau fisik
C Di dalam proses pengolahan makanan TIDAK terdapat tahap yang dapat  membunuh mikroorganisme berbahaya atau mencegah / menghilangkan bahaya kimia / fisik
D Makanan kemungkinan mengalami PENCEMARAN KEMBALI setelah pengolahan SEBELUM pengemasan / penyajian
E Kemungkinan dapat terjadi KONTAMINASI KEMBALI atau penanganan yang salah SELAMA distribusi, penanganan oleh konsumen / pasien, sehingga makanan menjadi berbahaya bila dikonsumsi
F Tidak ada proses pemanasan setelah mengemasan / penyajian atau waktu dipersiapkan di tingkat konsumen / pasien yang dapat memusnahkan / menghilangkan BAHAYA BIOLOGIS.

- Atau Tidak ada cara bagi konsumen untuk mendeteksi, menghilangkan, atau menghancurkan BAHAYA KIMIA atau FISIK

MMT Tabel 1

March 16, 2010

Nama Produk : Kaki Naga Udang

Deskripsi produk : produk perikanan komabako, yang bahan utama produk ini adalah udang yang dagingnya telah digiling dan diberi adonan tepung lalu ditusk dengan potongan sumpit.

Sumber :

http://www.4shared.com/get/174706698/deeeb9f4/Buku_PMM.html;jsessionid=6D2C63D6EC234B77594F9B08C2C102DA.dc116

NO Alur Proses Jenis Bahaya Cara Pencegahan
1 Penggilingan daging udang yang telah dibersihkan - Bahaya Fisik :

Sering terdapatnya cangkang udang yg belum terbuang

-Bahaya Kimiawi :

Bahan baku dapat mengandung bahan kimia yang berbahaya

- Bahaya biologis :

Bahan baku telah mengandung mikroba patogen berkaitan dengan kontaminasi

- Lebih memperhatikan dalam proses pembersihan bahan baku sebelum diproses lebih jauh

- Pemilihan supplier dan pengawasan bahan baku.

- Pemilihan supplier dan pengawasan bahan baku.

2 Pengadonan (Penambahan tepung terigu, maizena, susu, telur dan bumbu) - Bahaya Fisik :

Bahan baku dapat mengandung bahan asing yang berbahaya (HEM/Hazardous Extragenous Material) seperti kaca, logam, plastik dan kayu.

-Bahaya Kimiawi :

Proses pengadonan biasanya ada tambahan air, dan air kemungkinan tercemar logam berat atau bahan kimia organik berbahaya

-Bahaya Biologis :

Bahan baku untuk adonan telah expired atau mengandung bakteri patogen, virus dan jamur

- Pemilihan supplier dan memperhatikan secara detail bahan baku yang akan digunakan.

- Memastikan bahwa campuran air yang digunakan tidak tercemar oleh logam berat

- Memeriksa dengan baik semua bahan baku adonan yang akan digunakan

3 Pencetakan (dibuat bulat) -Bahaya Fisik :

Cetakan yang digunakan mengandung bahan berbahaya seperti kaca, logam plastik dll

-Bahaya Kimiawi :

Pada tangan pekerja atau alat yang digunakan terdapat kandungan bahan kimia berbahaya seperti antibiotik atau logam berat

-Bahaya Bilogis :

Bahaya biologis termasuk bakteri, virus atau parasit berbahaya terdapat pada bahan baku

- memastikan bahwa cetakan yang digunakan telah terhindar dari bahan berbahaya tersebut

- Pengawasan dan kebersihan harus sangat diperhatikan

- Memperhatikan bahan baku dengan pengawasan yang baik.

4 Perebusan (dimasak 15-30 menit menggunakan air dan minyak sayur) -Bahaya Fisik :

Media perebusan yang digunakan mengandung bahan berbahaya seperti kaca, logam plastik dll

-Bahaya Kimiawi :

Air yang digunakan kemungkinan tercemar logam berat atau bahan kimia organik berbahaya

-Bahaya Biologis :

Minyak sayur yang digunakan telah expired dan terkandung bakteri patogen

- memastikan bahwa media perebusan yang digunakan telah terhindar dari bahan berbahaya tersebut

-  Memastikan bahwa air yang digunakan tidak tercemar oleh logam berat dan bahan kimia lainnya.

- memperhatikan bahwa minyak yang digunakan masih baik

5 Penirisan -Bahaya Fisik :

Media yang digunakan telah terkontaminasi dengan bahan asing seperti rambut, debu dll

-Bahaya Kimiawi :Media penirisan telah terkontaminasi bahan kimia yang berbahaya

-Bahaya Biologis :Terdapat bakteri, jamur atau virus pada media penirisan

- memastikan bahwa media penisrisan telah steril dari benda asing

- Pengawasan terhadap media penirisan harus baik

- memastikan bahwa media yang akan digunakan telah steril dari bakteri, jamur maupun virus

6 Penggulingan dalam batter - Bahaya Fisik :Adonan yang digunakan mengandung bahan berbahaya seperti kaca, logam plastik dll

- Bahaya Kimiawi :

Pada tangan pekerja atau alat yang digunakan terdapat kandungan bahan kimia berbahaya seperti antibiotik atau logam berat

Bahaya Biologis :

Bahaya biologis termasuk bakteri, virus atau parasit berbahaya terdapat pada adonan

-  memastikan bahwa adonan yang digunakan telah terhindar dari bahan berbahaya tersebut

-  Pengawasan dan kebersihan harus sangat diperhatikan

- Memastikan bahwa adonan tidak terkontaminasi bakteri, virus maupun jamur

7 Dicelupkan ke dalam telur kocok serta Pelumuran dalam tepung roti dan penusukanpotongan sumpit Bahaya Fisik :

Seluruh bahan baku terkontaminasi debu dan benda asing

-Bahaya kimiawi :

Seluruh bahan baku dan potongan sumpit terdapat kandungan kimia berbahaya

Bahaya biologis :

Pada potongan sumpit terdapat jamur atau bakteri

- Memperhatikan seluruh proses dan bahan baku tidak terkontaminasi benda asing

- Pemilihan supplier bahan baku dan sumpit harus baik.

- Membersihkan terlebih dahulu dan memastikan tidak rekontaminasi oleh jamur dan bakteri

8 Pengemasan - Bahaya Fisik :

Terdapatnya benda asing pada kemasan yang akan digunakan

-Bahaya Kimiawi :

Kemasan mengandung logam berat atau bahan kimia berbahaya yang dapat merusak produk

Bahaya Biologis :

Kemasan mengandung jamur atau bakteri

- Memastikan bahwa kemasan yang akan digunakan tidak terdapt benda asing

- Jangan mengemas pada keadaan produk masih panas, dan memastikan kemasan produk aman.

- Menjaga dan mesnterilkan kemasan yang akan digunakan dar jamur maupun bakteri

9 Jadi Kaki Naga dan siap untuk didistribusikan

Vote

March 12, 2010


var tr_siteid = ‘jpvarian';

Indostats | Free counter Indonesia

Laut Dalam

January 24, 2010

Definisi Laut Dalam
Laut dalam merupakan seluruh zona yang berada di bawah zona eufotik (zona bercahaya), mencakup zona batipelagis, abisal dan hadal (Nontji,2002). Sealin itu dapat pula diartikan sebagai bagian dari lingkungan bahari yang terletak di bawah kedalaman yang dapat diterangi sinar matahari di laut terbuka dan lebih dalam dari paparan benua (>200m) (Nybakken,1982).
Zonasi Laut Dalam
a. Wilayah Laut Dalam
  • 85% dari luas dan 90% dari volume seluruh permukaan bumi yang tertutupi air
  • 75% dari wilayah laut, terletak di kedalaman > 3.000 meter
  • Palung dengan kedalaman >6.000 meter (terdapat 22 palung di dunia); Palung terdalam: Palung Mariana à 11.022 meter
  • Ekosistem unik: Hydrothermal vents, Cold hydrocarbon seeps dan lapisan pemberai dalam
  • Parameter fisika air umumnya seragam (suhu, salinitas, densitas, kadar O2)
  • Tekanan hidrosatis yang terus meningkat dengan semakin bertambahnya kedalaman, Tidak ada tumbuhan yang hidup
  • Biota: mikrobial dan hewan dengan mekanisme adaptasi tertentu yang bisa hidup
  • Sumber makanan yang langka
  • Paling sedikit diketahui dan diteliti (baru 1 % yang telah dieksplorasi dan dipelajari)
  • Tempat pembuangan sampah akhir terbesar di dunia)

b. Batasan Zona Kedalaman Perairan
Berdasarkan keadaan cahaya yang terdapat dalam laut, secara vertikal laut dibagi menjadi 3 zona. Zonasi ini dapat memiliki rentang kadalaman yang berbeda menurut kondisi geografis laut yang bersangkutan
- Batas bawah zona fotik di laut tropis s/d 200 meter
- Batas atas zona batipelagis di laut subtropis-dingin mulai dari 150 meter
Pembagian zona tersebut antara lain:
Zona Eufotik/photic
- Memiliki rentang dari permukaan laut s/d kedalaman di mana cahaya masih memungkinkan untuk keberlangsungan proses fotosintesis
- Disebut: Zona Epipelagis (0-150 meter)
Zona Disfotik
- Terdapat dibawah zona eufotik dimana cahaya yang ada sudah terlalu redup untuk mendukung proses fotosintesis
- Disebut: Zona Mesopelagis (150-1.000 meter)
Zona Afotik
- Zona yang pilng bawah dan merupakan zona yang gelap gulita sepanjang masa, umumnya terdapat pada kedalaman >1.000 meter
- Afotik dibagi menjadi 3 kedalaman
Zona Batipelagis —–150/1.000 – 3.000 meter
Zona Abisal —— 3.000 – 6.000 meter
Zona Hadal ——– > 6.000 meter
Kondisi Lingkungan Laut Dalam
Cahaya
Pada umumnya keadaan di laut dalam redup sampai gelap gulita, sehingga tidak ada proses fotosintesis berlangsung di dalam sana.
Tekanan Hidrostatis
Tekanan hidrostatis meningkat secara konstan sebanya 1 ATM (1 kg/cm2), setiap pertambahan kedalaman 10 meter, sehingga dapat dikatakan bahwa tekanan hidrostatisk yang bekerja di laut dalam sangat ekstrim.
Suhu
Suhu umumnya seragam, dengan kisaran 1 – 3oC (kecuali wilayah hydrothermal vents (>80oC) dan cold hydrocarbon seeps (<1 oC).
Salinitas di laut dalam mumnya seragam (35 permil), pada daerah cold hydrocarbon seeps (hipersain = 40 permil).
Sirkulasi Air
Sirkulasi air sangat lamban (< 5 cm/detik), tergantung pada bentuk dan topografidasar laut. Sikulasi air dan ventilasi dalam palung sangat menentukan kadar oksigen di laut dalam.
Kadar Oksigen
Kadar Oksigen cukup untuk menghidupi seluruh organisme di laut dalam (DO= 4% s/d 6%; di perairan eufotik, DO= 3.5% s/d 7%). Sumber oksigen utama: air permukaan laut di Antartika dan Arktik yang kaya Oksigen. Air bersifat anoksik : Teluk Kau (Halmahera), Palung Carioca (Venezuela), Palung Santa Barbara (USA)
Tipe Substrat
Tipe substrat terdiri atas substrat yang halus dan substrat berbatu di daerah mid-ocean ridge.
Suplai makanan
Suplai makanan langka, bergantung pada pakan yang diproduksi di tempat lain dan terangkut oleh proses hidrodinamis ke wilayah laut dalam
Jenis pakan
- Hujan plankton atau partikel organik lain
- Jatuhan bangkai hewan besar atau tumbuhan
- Bakteri berlemak yang mudah dicerna (rata-rata populasi bakteri 2mgC/m2)
- Bahan organik terlarut
Biota di Laut Dalam dan Adaptasinya
Komposisi biota laut dalam beserta biomassanya didominasi detritus feeder, yaitu:
- Sepon (porifera)                               – Teripang (Holothuroidea)
- Bintang laut (Asteroidea)                 – Anemon laut (Anthozoa)
- Karang (Anthozoa)                            – Polychaeta (Annelida)
- Echiura dan Sipuncula                      – Kima (Molusca)
- Crustacea                                          – Dan hewan lainnya
Biota laut dalam dibagi menjadi 2 kelompok:
a. Kolom perairan (Pelagis)
- Penghuni mesopelagis
- Penghuni batipelagis dan abisal-pelagis
b. Dasar perairan (Bentik)
- Penghuni dasar batial
- Penghuni dasar abisal
- Penghuni dasar ultra-abisal (hadal)
Penelitian di Laut Dalam
· Pelaksanaan kegiatan penelitian di laut dalam jauh lebih sulit dibanding di luar angkasa
· Hambatan utama melakukan penelitian di laut dalam adalah tekanan yang sangat besar, dibandingkan dengan luar angkasayang hampa udara (tekanan = 0 atm)
· Pada masa lalu, sampel dari laut dalam diperoleh dengan alat berupa jaring/pengeruk besar yang dioperasikan dari atas kapal oleh tali penghubung yang sangat panjang (diperlukan tali dengan panjang 2-3 kali dari titik kedalaman yang akan diteliti)
· Kini penelitian bisa dilaksanakan dengan ROV (Remotely Operated Vehicle) dan kapal selam

Definisi Laut Dalam
Laut dalam merupakan seluruh zona yang berada di bawah zona eufotik (zona bercahaya), mencakup zona batipelagis, abisal dan hadal (Nontji,2002). Sealin itu dapat pula diartikan sebagai bagian dari lingkungan bahari yang terletak di bawah kedalaman yang dapat diterangi sinar matahari di laut terbuka dan lebih dalam dari paparan benua (>200m) (Nybakken,1982).
Zonasi Laut Dalam
a. Wilayah Laut Dalam
  • 85% dari luas dan 90% dari volume seluruh permukaan bumi yang tertutupi air
  • 75% dari wilayah laut, terletak di kedalaman > 3.000 meter
  • Palung dengan kedalaman >6.000 meter (terdapat 22 palung di dunia); Palung terdalam: Palung Mariana à 11.022 meter
  • Ekosistem unik: Hydrothermal vents, Cold hydrocarbon seeps dan lapisan pemberai dalam
  • Parameter fisika air umumnya seragam (suhu, salinitas, densitas, kadar O2)
  • Tekanan hidrosatis yang terus meningkat dengan semakin bertambahnya kedalaman, Tidak ada tumbuhan yang hidup
  • Biota: mikrobial dan hewan dengan mekanisme adaptasi tertentu yang bisa hidup
  • Sumber makanan yang langka
  • Paling sedikit diketahui dan diteliti (baru 1 % yang telah dieksplorasi dan dipelajari)
  • Tempat pembuangan sampah akhir terbesar di dunia)

b. Batasan Zona Kedalaman Perairan
Berdasarkan keadaan cahaya yang terdapat dalam laut, secara vertikal laut dibagi menjadi 3 zona. Zonasi ini dapat memiliki rentang kadalaman yang berbeda menurut kondisi geografis laut yang bersangkutan
- Batas bawah zona fotik di laut tropis s/d 200 meter
- Batas atas zona batipelagis di laut subtropis-dingin mulai dari 150 meter
Pembagian zona tersebut antara lain:
Zona Eufotik/photic
- Memiliki rentang dari permukaan laut s/d kedalaman di mana cahaya masih memungkinkan untuk keberlangsungan proses fotosintesis
- Disebut: Zona Epipelagis (0-150 meter)
Zona Disfotik
- Terdapat dibawah zona eufotik dimana cahaya yang ada sudah terlalu redup untuk mendukung proses fotosintesis
- Disebut: Zona Mesopelagis (150-1.000 meter)
Zona Afotik
- Zona yang pilng bawah dan merupakan zona yang gelap gulita sepanjang masa, umumnya terdapat pada kedalaman >1.000 meter
- Afotik dibagi menjadi 3 kedalaman
Zona Batipelagis —–150/1.000 – 3.000 meter
Zona Abisal —— 3.000 – 6.000 meter
Zona Hadal ——– > 6.000 meter
Kondisi Lingkungan Laut Dalam
Cahaya
Pada umumnya keadaan di laut dalam redup sampai gelap gulita, sehingga tidak ada proses fotosintesis berlangsung di dalam sana.
Tekanan Hidrostatis
Tekanan hidrostatis meningkat secara konstan sebanya 1 ATM (1 kg/cm2), setiap pertambahan kedalaman 10 meter, sehingga dapat dikatakan bahwa tekanan hidrostatisk yang bekerja di laut dalam sangat ekstrim.
Suhu
Suhu umumnya seragam, dengan kisaran 1 – 3oC (kecuali wilayah hydrothermal vents (>80oC) dan cold hydrocarbon seeps (<1 oC).
Salinitas di laut dalam mumnya seragam (35 permil), pada daerah cold hydrocarbon seeps (hipersain = 40 permil).
Sirkulasi Air
Sirkulasi air sangat lamban (< 5 cm/detik), tergantung pada bentuk dan topografidasar laut. Sikulasi air dan ventilasi dalam palung sangat menentukan kadar oksigen di laut dalam.
Kadar Oksigen
Kadar Oksigen cukup untuk menghidupi seluruh organisme di laut dalam (DO= 4% s/d 6%; di perairan eufotik, DO= 3.5% s/d 7%). Sumber oksigen utama: air permukaan laut di Antartika dan Arktik yang kaya Oksigen. Air bersifat anoksik : Teluk Kau (Halmahera), Palung Carioca (Venezuela), Palung Santa Barbara (USA)
Tipe Substrat
Tipe substrat terdiri atas substrat yang halus dan substrat berbatu di daerah mid-ocean ridge.
Suplai makanan
Suplai makanan langka, bergantung pada pakan yang diproduksi di tempat lain dan terangkut oleh proses hidrodinamis ke wilayah laut dalam
Jenis pakan
- Hujan plankton atau partikel organik lain
- Jatuhan bangkai hewan besar atau tumbuhan
- Bakteri berlemak yang mudah dicerna (rata-rata populasi bakteri 2mgC/m2)
- Bahan organik terlarut
Biota di Laut Dalam dan Adaptasinya
Komposisi biota laut dalam beserta biomassanya didominasi detritus feeder, yaitu:
- Sepon (porifera)                               – Teripang (Holothuroidea)
- Bintang laut (Asteroidea)                 – Anemon laut (Anthozoa)
- Karang (Anthozoa)                            – Polychaeta (Annelida)
- Echiura dan Sipuncula                      – Kima (Molusca)
- Crustacea                                          – Dan hewan lainnya
Biota laut dalam dibagi menjadi 2 kelompok:
a. Kolom perairan (Pelagis)
- Penghuni mesopelagis
- Penghuni batipelagis dan abisal-pelagis
b. Dasar perairan (Bentik)
- Penghuni dasar batial
- Penghuni dasar abisal
- Penghuni dasar ultra-abisal (hadal)
Penelitian di Laut Dalam
· Pelaksanaan kegiatan penelitian di laut dalam jauh lebih sulit dibanding di luar angkasa
· Hambatan utama melakukan penelitian di laut dalam adalah tekanan yang sangat besar, dibandingkan dengan luar angkasayang hampa udara (tekanan = 0 atm)
· Pada masa lalu, sampel dari laut dalam diperoleh dengan alat berupa jaring/pengeruk besar yang dioperasikan dari atas kapal oleh tali penghubung yang sangat panjang (diperlukan tali dengan panjang 2-3 kali dari titik kedalaman yang akan diteliti)
· Kini penelitian bisa dilaksanakan dengan ROV (Remotely Operated Vehicle) dan kapal selam

Ontogeni Danau

January 24, 2010

  • Pengertian Ontogeni

Pertumbuhan atau perkembangan danau mulai dari terbentuk, mengalami proses eutrofikasi dan selanjutnya berubah menjadi ekosistem terrestrial melalui beberapa stadia perubahan.

Setelah terbentuk danau akan mengalami penuaan (Eutrofikasi). Eutrofikasi secara alami terjadi dalam waktu yang panjang. Vollenweider (1968) dalam Landner (1976) menyatakan eutrofikasi adalah pengkayaan nutrien yang dikuti oleh kemunduran kualitas air. Definisi yang paling mendasar membatasi eutrofikasi dalam pengertian pengkayaan badan air dengan nutrien inorganik, khususnya nitrogen dan fosfor.

  • Stadia / Tahapan Perubahan

Pembentukan dan pertumbuhan danau melalui bermacam-macam stadia, dari stadia awal, stadia intermediate, stadia akhir. Dalam perkembangan danau terdapat susunan mikroba di dalam tanah sebagian besar terdiri dari bakteri, fungi, dan mikroalga. Populasi mikroba dalam tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba yaitu :

1) Jumlah dan macam zat hara

2) Kelembaban

3) Tingkat aerasi

4) Suhu

5) pH

6) Perlakuan pada tanah seperti penambahan pupuk atau banjir yang dapat menyebabkan peningkatan jumlah mikroba.

Berikut Gambar Tahapan Ontogeni pada danau dangkal :

1.

2.

3.

4.

Penjelasan gambar :

  1. Danau belum terkontaminasi oleh sedimen, atau belum adanya sedimen yang mengendap di dasar danau.
  2. Komunitas Litoral masih ada, karena air danau masih ada dalam volume maksimal, dengan bagian dasar terdapat sedimen yang ketinggiannya masih rendah
  3. Bagian dasar danau yang terdiri dari sedimen mulai naik ke atas, mengisi setengah dari tinggi air. Tetapi air masih ada diantara sedimen.
  4. Permukaan air sudah mulai tertutupi oleh sedimen, sudah tidak ada air.

Dari tahapan danau Rheotrophic sampai Ombrotrophic yang terjadi setelah tahapan ke-4. Istilah ombrotrophic terjadi di mana air di permukaan tanah adalah acidic, baik dari acidic tanah air, atau tempat air yang seluruhnya berasal dari hujan. Air mengalir dari danau memiliki karakteristik warna coklat, dari larut turf tannins. danau sangat sensitif habitat, yang tinggi penting untuk keanekaragaman hayati. Berikut proses kimianya :

Proses perubahan kimia Ca, H, HCO3, dan SO4 merupakan unsure kimia yang signifikan perubahannya.

Dengan keterangan :

pH yang ada saat tahap pertama sebesar 7.6 ppm, dan saat masuk tahap Ombrotrophic turun sebesar 3.8 ppm. Unsur-unsur diatas merupakan unsur makro yang ada di perairan. Bagian-bagian yang diberi kotak merah itu merupakan perbandingan dari tahap Rheotrophic sampai Ombrotrophic sangat jauh. Misalnya saja Ca pada bagian Rheotrophic sebanyak 4.0 ppm, sedangkan saat ombrotrophic sebesar 0.04 ppm.

  • Stadia Awal pada Proses Perkembangan

Pada stadia ini disebut danau rheotrophic yaitu pemasukan bahan–bahan ke dalam danau yaitu produktivitas (autochonus, allochtonus). Golongan autotonus, yaitu golongan mikroba atau pun plankton yang telah ada pada suatu ekosistem perairan danau yang selalu tetap didapatkan di dalam tanah dan tidak tergantung kepada pengaruh lingkungan luar seperti iklim, temperatur, kelembaban. Pada golongan allochtonus merupakan makhluk hidup ataupun berupa limbah yang berasal dari luar yang masuk secara alami ataupun dampak dari perbuatan manusia.

  • 3.2.2        Stadia Intermediate

Golongan autochtonus didominasi oleh produktifitas fitoplankton dan sedikit produktifitas litoral. Pada stadia intemediate ini proses pendangkalan danau masih berada pada tahap rheotrophic yang ke dua, dimana danau tersebut masih memiliki lapisan air yang sedikit untuk pembentukan area litoral. Lalu terjadi kondisi mesotrophic serta diikuti dengan berkembangnya tumbuhan (makrofita) yang berakar dan daunnya yang mencuat keatas permukaan air.

Dan pada stadia ini berkembangnya tumbuhan rushes dan sedges, sisa tumbuhan inalang ini berubah menjadi gambut (fen peat). Berkembangnya fen peat sampai kepermukaan tanah maka akan membentuk gambut transisi.

  • 3.2.3        Stadia Akhir

Stadia akhir adalah dimana fen dan transisi peat mulai berkembang dan terjadi pendangkalan yaitu dengan sedimen mencapai kepermukaan. Serta dimulainya tahapan ombrotrophic. Tumbuhan pada ombrotrophic tergantung kepada nutrisi air hujan. Dan ombrotrophic pun miskin akan nutrisi dan tingkat keasaman yang kuat. Komunitas organisme sangat beragam termasuk jenis-jenis ganggang yang melekat (khususnya diatom), berbagai siput dan remis, serangga, crustacea, ikan, amfibi, reptilia air dan semi air seperti kura-kura dan ular, itik dan angsa, dan beberapa mamalia yang sering mencari makan di danau.

  • 3.3  Faktor yang mempengaruhi pendangkalan danau

Yang mempengaruhi pendangkalan danau dipengaruhi oleh faktorr alami dan buatan manusia. Faktor alami adalah karena erosi. Faktor-faktor yang menyebabkan pendangkalan atau hilangnya suatu danau diantaranya :

  • Pembentukan delta-delta dan pelumpuran danau. Hal ini dapat terjadi jika di daerah hulu sungai timbul erosi besar akibat gundulnya hutan atau sebab lainnya. Kemudian penyempitan delta serta pendangkalan danau, yang akhirnya dapat membuat danau lenyap
  • Gerakan tektonik berupa pengangkatan dasar danau
  • Pengendapan jasad tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang yang mati akan mempercepat proses pendangkalan dasar danau
  • Penguapan yang sangat kuat
  • Sungai-sungai yang meninggalkan danau menimbulkan erosi dasar pada bibir danau, sehingga tempat itu rendah dan akibatnya air danau keluar lebih banyak. Akibatnya danau bisa menjadi kering dan kehabisan air.

Faktor Erosi

Faktor utama yang menjadi penyebab terjadinya pendangkalan adalah erosi tanah dari daratan sekitar danau. Erosi adalah suatu proses dimana tanah dihancurkan (detached) dan kemudian dipindahkan (transported) ke tempat lain oleh kekuatan air, angin, sungai atau gravitasi.

Empat faktor utama yang dianggap terlibat dalam proses erosi adalah iklim, sifat tanah, topografi dan vegetasi penutup lahan. Oleh Wischmeier dan Smith (1975) keempat faktor tersebut dimanfaatkan sebagai dasar untuk menentukan besarnya erosi tanah melalui persamaan umum yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan persamaan universal (Universal Soil Loss Equation.-USLE).

Laju erosi yang dinyatakan dalam mm/thn atau ton/ha/thn yang terbesar yang masih dapat dibiarkan atau ditoleransikan agar terpelihara suatu kedalaman tanah yang cukup bagi pertumbuhan tanaman yang memungkinkan tercapainya produktivitas yang tinggi secara lestari disebut erosi yang masih dapat dibiarkan atau ditoleransikan disebut nilai T.

Hasil penelitian Hardjowigeno (1987, dalam Arsyad, 2000) dapat ditetapkan besarnya T maksimum untuk tanah-tanah di Indonesia adalah 2.5 mm/thn, yaitu untuk tanah dalam dengan lapisan bawah (subsoil) yang permeabel dengan substratum yang tidak terkonsolidasi (telah mengalami pelapukan). Tanah-tanah yang kedalamannya kurang atau sifat-sifat lapisan bawah yang lebih kedap air atau terletak di atas substratum yang belum melapuk, nilai T harus lebih kecil dari 2.5 mm/thn. Terjadinya erosi dan masuknya sedimen ke danau akan mengakibatkan pengendapan dan pendangkalan sehingga akan mempengaruhi kapasitas tampung danau sehingga mengakibatkan pendangkalan.

Faktor Gerakan Tektonik

Tektonisme adalah tenaga yang berasal dari kulit bumi yang menyebabkan perubahan lapisan permukaan bumi, baik mendatar maupun vertikal. Tenaga tektonik adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi yang menyebabkan gerak naik dan turun lapisan kulit bumi. Gerak itu meliputi gerak orogenetik dan gerak epirogenetik. (orogenesa dan epiro genesa). Dengan gerakan vertical tersebut maka akan merubah topografi dasar danau sehingga menyebabkan pendangkalan.

Gerak orogenetik adalah gerak yang dapat menimbulkan lipatan patahan retakan disebabkan karena gerakan dalam bumi yang besar dan meliputi daerah yang sempit serta berlangsung dalam waktu yang singkat. Gerak epirogenetic yaitu gerak yang dapat menimbulkan permukaan bumi seolah turun atau naik, disebabkan karena gerakan di bumi yang lambat dan meliputi daerah yang luas gerak epirogenetik di bedakan menjadi dua, yaitu gerak epiro genetic positif dan gerak epiro genetic negatif.

Faktor Perbuatan Manusia

Selain disebabkan oleh faktor alami pendangkalan danau juga disebabkan oleh perbuatan manusia. Karena danau merupakan Sumber air minum, Sumber irigasi dibidang pertanian, pencegahan dan pengendalian banjir, Budidaya dan penangkapan perikanan darat, PLTA (Pembangkit listrik tenaga air), Sarana rekreasi dan olahraga

Contoh danau yang dimanfaatkan sebagai budidaya perikanan darat adalah seperti pembuatan karamba jaring apung yang melewati ambang batas kemampuan danau dan bahkan beberapa bagian dari danau. Selain itu juga biasanya danau banyak yang berubah menjadi pemukiman permanen dengan banyaknya rumah-rumah yang telah dibangun yang dahulu merupakan bagian dari danau itu sendiri. Ditambahkan pula bahwa peran danau adalah sebagai penyedia / sumber air bagi pengelolaan air bersih, sebagai habitat tumbuhan dan satwa, dan juga sebagai pengatur fungsi hidrologis. Dengan semua aktivitas manusia disekitar danau maka akan mengakibatkan bencana banjir, longsor, kekeringan merupakan akibat dari ketidakseimbangan serta kerusakan sumber daya alam dikawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) akibat manusia.

Masyarakat nelayan biasanya melakukan penangkapan ikan dengan perangkap ikan menggunakan batang pohon sebagai umpan sehingga mengalami pembusukan dan pengendapan kedasar danau. Maka lambat laun batang tersebut akan mengendap.

Penguapan dan pengendapan jasad-jasad tumbuhan dan hewan yang mati

Penguapan terjadi pada saat musim di daerah sekitar danau ataupun pada daerah danau sedang musim kemarau. Air akan menguap secara berlebihan dengan didukungnya kandungan dalam air yang asam, akan mempercepat penguapan air. Biota air seperti hewan-hewan air dan tumbuhan yang ada di dalam danau ataupun sekitar danau yang hidupnya mengandalkan asupan makanan yang ada di danau, akan cepat punah, karena kandungan zat hara dan nutrisi yang ada di dalam air berkurang, dengan pH yang asam, biota air pun tidak akan bertahan. Maka jasad-jasad biota-biota air tersebut akan mengendap di dasar danau, dan mempercepat proses ontogeni pada danau tersebut.

Blooming Fitoplankton

Masuknya limbah pakan (nutrien) ke perairan danau dalam jumlah yang berlebih dapat menyebabkan perairan menjadi lewat subur, sehingga akan menstimulir blooming (ledakan) populasi fitoplankton dan mikroba air yang bersifat patogen. Limbah zat hara dan organik baik dalam bentuk terlarut maupun partikel, berasal dari pakan yang tidak dimakan dan eksresi ikan, yang umumnya dikarakterisasi oleh peningkatan total padatan tersuspensi (TSS), BOD5, COD, dan kandungan C, N dan P. Secara potensial penyebaran dampak buangan limbah yang kaya zat hara dan bahan organik tersebut dapat meningkatkan sedimentasi, siltasi, hipoksia, hipernutrifikasi, dan perubahan produktivitas serta struktur komunitas bentik (Barg, 1992).

Dampak Pendangkalan danau

Pendangkalan danau dalam kehidupan makhluk hidup akan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup manusia, hewan, maupun tumbuhan yang hidup disekitar danau tersebut. Dampak yang akan terjadi pada manusia ialah dampak dari segi ekonomi, segi ekologi dan segi sosial.

Dampak Ekonomi

Dampak ekonomi yang di timbulkan sangat jelas merugikan daerah tersebut. Yang mana kerusakan, pencemaran, dan pendangkalan akan menyebabkan beralih fungsinya danau yang semula sebagai tempat objek wisata yang sangat terkenal akan keindahannya menjadi sebuah danau penampungan sampah dengan bau yang tidak sedap serta tempat pembiakan eceng gondok. Tidak lagi tersedianya pasokan air bersih, tidak terdapat lagi tempat untuk membudidayakan ikan dengan menggunakan karamba jaring apung.

Dampak ekologi

Yaitu meliputi segala bentuk perubahan mendasar yang terjadi di sekitar lingkungan danau. Beberapa dampak negatif yang ditimbulkan antara lain :

a)         Pembuangan sisa sampah dan sisa limbah rumah tangga merupakan faktor utama yang menyebabkan tumbuhnya eceng gondok, pertumbuhan populasi eceng gondok yang begitu cepat dan melimpah menyebabkan menyempitnya permukaan danau, eceng gondok yang telah membusuk akan mengendap ke dasar danau sehingga sedikit demi sedikit danau akan menjadi dangkal, selain dari itu berbagai kegiatan para masyarakat nelayan juga menyebabkan terjadinya pengendapan.

b)         Terjadinya erosi air sungai sekitar danau atau sungai yang mengisi danau, erosi dapat terjadi ketika sungai tidak mampu menanggulangi air hujan dengan aliran yang begitu besar, penyebab hal itu terjadi akibat hutan yang gundul, pembuangan sampah yang tidak tepat oleh masyarakat menyebabkan tersumbatnya aliran sungai sehingga air dengan tekanan tinggi akan mengikis pinggiran sungai dan bermuara ke danau sehingga danau akan mengalami pendangkalan.

c)         Pembusukan flora menyebabkan air danau berbau busuk, hal inilah yang membuat danau tersebut menjadi sumber masalah polusi udara, dengan bau yang tidak sedap ini menyebabkan terganggunya berbagai aktivitas di sekitar danau.

Dampak Sosial

Kerusakan, pencemaran, dan pendangkalan danau akan berdampak sosial terhadap kelangsungan hidup masyarakat sekitar danau. Dampak Sosial tersebut seperti terjadinya ketidak sepahaman antara masyarakat sadar lingkungan dan masyarakat yang tidak sadar akan lingkungan. Masyarakat yang tidak sadar akan lingkungan akan selalu melakukan kegiatannya yang mengotori danau dengan membuang sampah dan sisa limbah rumah tangga mereka tanpa menyadari bahwa yang telah dilakukan itu akan merusak lingkungan dan organisme yang ada didanau dan menonaktifkan fungsi danau yang sebenarnya.

Pencegahan Agar Tidak Terjadi Pendangkalan Danau

Ada beberapa cara untuk mencegah terjadinya pendangkalan danau yang terjadi akibat faktor alami maupun manusia. Hal ini akan menghambat ataupun menghindari proses ontogeni. Pencegahan ini dilakukan oleh beberapa orang yang sadar akan pentingnya danau ataupun pemerintah yang akan membuat kebijakannya. Pencegahannya sebagai berikut :

Penanganan Erosi

Pendugaan jumlah erosi dan sedimen yang terjadi dan masuk kedalam danau dengan menggunakan model simulasi GeoWEPP (Geo-spasial Water Erosion Prediction Project). GeoWEPP merupakan model fisik simulasi kontinyu yang dapat digunakan untuk memperkirakan tingkat erosi yang terjadi di DAS karena GeoWEPP memiliki kelebihan untuk memprediksi distribusi kehilangan tanah spasial dan temporal untuk sebuah lereng atau titik tertentu pada suatu lereng secara harian, bulanan atau rata-rata tahunan. Hasil keluaran dapat diekstrapolasi kedalam kondisi yang lebih luas. Dengan kata lain, model GeoWEPP dapat memprediksi efek in-site dan off site dari erosi tersebut. Dengan diketahuinya sumber erosi pada danau maka akan dapat mencegah terjadinya erosi secara berkelanjutan yang akan mengakibatkan pendangkalan danau.

Selain menggunakan alat yang dapat mendeteksi erosi, penanganan erosi pun dapat dilakukan dengan reboisasi pada DAS dan hutan sekitar danau agar daya serap air semakin banyak dan tidak menyebabkan erosi, selain itu juga dapat mencegah sedimentasi kedanau. Setelah mengetahui akan terjadinya erosi maka dilakukanlah penembokan atau reboisasi disekitar danau / situ sebelum erosi terjadi.

Pengerukan Danau

Salah satu cara untuk mencegah pendangkalan danau adalah dengan pengerukan danau. Apabila danau telah dinilai mulai mengalami pendangkalan maka dilakukan pengerukan agar danau kembali kekedalaman yang semestinya, sementara hasil pengerukan ini akan dijadikan tanggul bantaran sungai agar tidak terjadi sedimentasi.

Kesadaran Masyarakat

Pendangkalan danau yang disebabkan oleh manusia seperti pembuatan karamba jaring apung yang melewati ambang batas, membuang sampah rumah tangga kedalam danau dan dijadikannya danau sebagai pemukiman permanen dapat dicegah atau dikurangi dengan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya danau bagi kelangsungan hidup mereka. Jika perlu dibuat peraturan yang melarang keras pembangunan pemukiman disekitar danau.

Pendekatan Sistem

Pendekatan sistem merupakan cara penyelesaian persoalan yang dimulai dengan dilakukannya identifikasi terhadap sejumlah kebutuhan, sehingga dapat menghasilkan suatu operasi sistem yang efektif (Eriyatno, 2007). Konsep sistem yang berlandaskan pada unit keragaman dan selalu mencari keterpaduan antar komponen melalui pemahaman secara holistik (menyeluruh) dan utuh, merupakan suatu alternative pendekatan baru dalam memahami dunia nyata (Forester, 1971). Pendekatan sistem disini dimaksudkan untuk dapat membangun model pengendalian pencemaran dari limbah-limbah yang ada di sekitar danau. Sehingga pemanfaatan fungsi danau dapat berkesinambungan.

Danau Yang Telah Terjadi Pendangkalan

Di Indonesia terdapat beberapa danau yang telah mengalami ataupun yang sedang dalam proses mengalami pendangkalan danau. Berikut beberapa contoh danau di Indonesia yang telah mengalami pendangkalan danau.

Danau Sentarum

Erosi di sekitar kawasan Danau Sentarum terus terjadi. Akibatnya Danau Sentarum mengalami pendangkalan. Setiap tahunnya pendangkalan yang terjadi mencapai 25 cm. Berarti dalam empat tahun, pendangkalan air Danau Sentarum bisa mencapai satu meter. Kalau sekarang kedalaman danau ini 10-16 meter, berarti 50 tahun lagi dasar Danau Sentarum sudah rata dengan daratan. Lebih mengejutkan lagi setelah diamati di lapangan, adanya sedimentasi yang mencapai 25cm.

Danau Limboto

Danau yang luasnya pernah mencapai 7000 hektare ini terletak di Kabupaten Limboto, Gorontalo. Pendangkalan dan penyempitan danau terus menerus terjadi hingga saat ini dan luasnya menjadi kurang dari 3000 hektare. Sangat menyedihkan karena danau ini masuk ke dalam daftar sepuluh danau rusak parah. Saat ini sulit untuk menangkap ikan di Danau Limboto. Di samping itu, permukaan air sudah tertutupi oleh eceng gondok yang mengurangi oksigen bagi kehidupan organisme di bawah air.

Pendangkalan danau terjadi karena tingginya sedimentasi akibat pembalakan liar di hulu, daerah aliran sungai yang rusak ikut mempercepat proses sedimentasi. Alhasil, jika musim kemarau datang, kedalaman danau hanya 1,5 meter saja. Kemudian di sisi lain, penyempitan atau penyusutan luas danau terjadi karena berjamurnya pemukiman warga di pinggir danau dan juga keramba-keramba ikan yang sudah ditinggalkan warga. Yang mengagetkan ialah penguasaan lahan di tepi danau tersebut mendapat legalitas dari pemerintah pada tahun 1995 dengan membagikan sertifikat gratis.

Danau Limboto sekarang mengalami krisis pendangkalan yang paling dramatis. Sampai tahun 1993, kedalaman danau rata-rata tinggal 1,8 meter dengan
luas 3.022,5 hektare. Padahal, tahun 1934 kedalamannya 14 meter dengan luas 7.000 hektare (lihat daftar). Dengan memperhatikan keadaan alam dan faktor-faktor yang mempengaruhi pendangkalan, diperikirakan danau Limboto di tahun 2020 tinggal kenangan.

Daftar perkembangan pendangkalan Danau Limboto sejak tahun 1934 sampai tahun 1993

No Tahun Kedalaman (m) Luas (Ha)
1 1934 14 7.000
2 1950 12,27 6.873
3 1952 7 5.000
4 1970 4,5 4.500
5 1975 3,5 3.500
6 1982 2,5 3.362
7 1993 1,8 3.022,5

Danau Chad

Danau Chad adalah sebuah danau dangkal di Afrika, sangat penting karena menyediakan air bagi lebih dari 20 juta orang yang tinggal di 4 negara di sekitarnya — Chad, Kamerun, Niger, dan Nigeria. Terletak di barat Chad, berbatasan dengan Nigeria timur laut. Lebih dari 90% air danau Chad berasal dari sungai Chari. Danau ini memiliki banyak pulau kecil, dan pantainya membentuk rawa-rawa.

Sedimen yang ditemukan di danau ini menunjukkan beberapa waktu kering, sekitar tahun 8500 SM, 5500 SM, 2000 SM, dan 100 SM. Pada tahun 1960-an luas daerahnya adalah 26.000 km², namun pada tahun 2000 telah susut menjadi 1.500 km². Hal ini disebabkan oleh berkurangnya curah hujan dan banyaknya air irigasi yang diambil dari danau ini dan sungai-sungai sekitarnya. Diperkirakan bahwa danau ini akan mengering dalam abad ke-21. Kedalaman rata-rata saat ini adalah 1,5 meter.

Kesimpulannya :

Ontogeni merupakan Pertumbuhan atau perkembangan danau mulai dari terbentuk, mengalami proses eutrofikasi dan selanjutnya berubah menjadi ekosistem terrestrial melalui beberapa stadia perubahan. Dalam proses ontogeny terdapat 3 stadia/tahapan perubahan : stadia awal, stadia intermediate, stadia akhir. Sebelum masuk ke ontogeni danau tersebut mengalami proses ombrotrophic (danau masih ada sedikit air), sedangkan bila ontogeni sama sekali tidak ada air, seluruh permukaan danau tertutup oleh sedimen.

Faktor penyebab adanya pendangkalan danau karena adanya faktor erosi, faktor gerakan tektonik, faktor perbuatan manusia, penguapan dan pengendapan jasad-jasad hewan dan tumbuhan yang mati, faktor adanya blooming fitoplankton. Dan pendangkalan danau pun akan berdampak terhadap

Bakteri asam laktat merupakan jenis bakteri yang mampu menghasilkan asam laktat, hidrogen peroksida, antimikroba dan hasil metabolisme lain yang memberikan pengaruh positif bagi produktivitas ternak. Bakteri asam laktat diisolasi untuk menghasilkan antimikroba yang dapat digunakan sebagai probiotik.

Dalam isolasi bakteri asam laktat, kegiatannya meliputi pengenceran, pemupukan, pemurnian, pengayaan, dan penyimpanan bakteri asam laktat dalam gliserol stock. Media yang digunakan adalah MRS (de Mann, Rogosa, Sharpe) baik dalam bentuk padat maupun cair, media Mueller Hinton Agar s Trypticase Soy Broth (TSB). Untuk menghasilkan antimikroba, dilakukan dengan menanam biakan bakteri (0,1 ml) dalam 10 ml media TSB dan diinkubasi pada suhu 37°C selama waktu optimum. Selanjutnya dilakukan sentrifugasi dengan kecepatan 600 rpm selama 15 menit sehingga diperoleh filtrat yang digunakan dalam konfrontasi dengan abkteri untuk menentukan dihasilkan atau tidaknya antimikroba.

Untuk mengetahui bakteri penghasil substansi antimikroba dilakukan metode sumur agar (well diffusion agar). Pada metode ini, bakteri yang mampu menghasilkan substansi antimikroba akan melakukan penghambatan terhadap bakteri yang digunakan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya zona bening di sekitar sumur agar. Semakin besar diameter zona bening di sekitar sumur menunjukkan aktivitas antimikroba yang tinggi. Setelah mengetahui bakteri penghasil substansi antimikroba, maka perlu dilakukan uji sensitifitas antimikroba terhadap enzim proteolitik (pepsin), pH, dan suhu. Pengujian aktivitas antimikroba ini dilakukan dengan metode sumur agar.

Untuk isolasi bakteri asam laktat penghasil antimikroba, digunakan isolat bakteri asam laktat murni yang diperoleh dari isolat saluran pencernaan hewan ternak. Setelah dilakukan konfrontasi isolat dan bakteri, menunjukkan bahwa bakteri Salmonella sp. yang sensitif terhadap isolat dibandingkan dengan bakteri uji yang lain.

Seleksi berdasarkan kemampuan penghambatan, menunjukkan bahwa pada isolat nomor 7 dari feses ayam (FA7), isolat nomor 3 dari feses sapi (FS3) dan isolat nomor 3 dari saluran pencernaan ayam (RA3) mampu menghasilkan antimikroba dan menghambat Salmonella sp. Hal ini diketahui dengan adanya zona bening di sekitar sumur. Dengan diketahui aktivitas dari bakteri tersebut, dapat dilakukan uji sensitifitas antimikroba dengan melakukan penambahan enzim proteolitik pada substansi penghasil antimikroba. Penambahan enzim ini dapat menyebabkan aktivitas dari bakteri tersebut berkurang dan bahkan tidak ada aktivitas. Substansi antimikroba yang sensitif terhadap enzim proteolitik menunjukkan bahwa komponen utama pada substansi antimikroba yang aktif merupakan protein. Substansi protein yang dihasilkan oleh strain bakteri tertentu dan mempunyai kemampuan menghambat bakteri lain dan sensitif terhadap enzim proteolitik disebut sebagai antimikroba.

Setelah dilakukan uji sensitifitas antimikroba terhadap enzim proteolitik, perlu dilakukan uji sensitifitas antimikroba terhadap pH dan suhu. Dengan melakukan uji ini dapat diketahui bahwa antimikroba yang dihasilkan memiliki aktivitas optimum pada pH 6,5-7,0 dan paa suhu 35°C.

Isolasi bakteri asam laktat dilakukan untuk menghasilkan antimikroba yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Dengan mengetahui aktivitas antimikroba terhadap bakteri tertentu sangat penting peranannya dalam meningkatkan produksi ternak maupun mencegah terkontminasinya produk-produk pertenakan oleh bakteri, khususnya bakteri patogen yang berbahaya sehingga dapat menimbulkan penyakit baik pada hewan ternak maupun pada manusia. Isolasi bakteri asam laktat yang mampu menghasilkan antimikroba, dapat digunakan sebagai probiotik. Probiotik dapat meningkatkan produktivitas ternak. Dengan memberikan probiotik sebagai suplemen dapat mengambalikan keseimbangan bakteri (rasio antara bakteri patogen dan nonpatogen) dalam saluran pencernaan ternak terutama dalam usus.

Mikroba

Anti Mikroba

Ikan merupakan sumber makanan yang mudah sekali rusak atau terserang bakteri karena memiliki struktur daging yang lebih lembek dari daging ternak, selain itu ikan mengandung banyak air dan memudahkan bakteri untuk menyerang.

Dalam memperpanjang masa simpan ikan biasanya hanya menggunakan suhu rendah. Penggunaan suhu rendah sendiri diklasifikasikan dalam 2 cara yaitu : Pendinginan (chilling) dan Pembekuan (freezing). Akan tetapi apabila hanya menggunakan suhu rendah masih kurang efektif dalam memperpanjang masa simpan, karena masih ada beberapa mikroorganisme yang masih dapat bertahan, walaupun metabolismenya dapat dihambat. Contoh mikroorganisme yang masih dapat bertahan pada suhu rendah adalah : Pseudomonas, Achromobacter, Alkaligenes, Flavor Bacterium.

Oleh karena masalah – masalah tersebut saya mencoba melakukan penelitian menggunakan fermentasi sawi sebagai penghasil bakteri antagonis yang dapat memperpanjang masa simpan antara 10 – 14 hari. Dari hasil fermentasi tersebut akan menghasilkan mikroba dan antimikroba, mikroba yang dihasilkan paling banyak pada fermentasi sawi adalah pada hari ke – 4. Semakin lama fermentasi maka jumlah mikroba akan menemukan titik puncak, lalu terjadi penurunan jumlah mikroba. Dan pada saat terjadi penurunan jumlah mikroba maka terjadi pula peningkatan jumlah antimikroba. Saya akan membandingkan manakah yang paling efektif antara mikroba dan antimikroba dalam memperpanjang masa simpan ikan.

Gempa Haiti

January 22, 2010

Guncangan gempa bumi yang dahsyat telah meratakan sejumlah bangunan dengan tanah di ibu kota Port-au-Prince. Guncangan gempa bumi yang berkekuatan awal 7 skala Richter, Selasa (12/1/2010) pada pukul 16:45 waktu setempat atau pukul 04.45 Rabu pagi WIB itu berpusat di sekitar
10 mil barat ibu kota Haiti tersebut.

“Sejumlah penduduk
berlarian ke jalan, menangis, berteriak serta menjerit ketakutan,” kata
Karel Zelenka, Direktur Catholic Relief Services (CRS) di Haiti.
“Mereka melihat betapa dahsyatnya kerusakan yang ditimbulkan, tetapi
tidak berdaya menyelamatkan begitu banyak orang yang tertimbun di bawah
puing-puing bangunan,” tuturnya.

“Ada begitu banyak bangunan
yang rubuh,” kata Zelenka dalam sebuah wawancara telepon dari
Port-au-Prince. “Bencana ini akan menjadi bencana besar.”

Zelenka
melaporkan awan asap tebal terlihat di udara setelah sejumlah bangunan
ambruk. Di dekat markas CRS, sebuah swalayan hancur dan benar-benar
rata dengan tanah.

Presiden AS Barack Obama telah menyampaikan
pernyataan belasungkawa terhadap para korban gempa. Departemen Luar
Negeri AS menjelaskan, Washington akan menyediakan bantuan darurat
pemulihan bencana ke Haiti. Badan Pembangunan Internasional AS dan
Komando Armada Selatan AS telah mulai membentuk koordinasi untuk
menaksir kerugian materi dan jumlah korban di lokasi bencana.

Di
salah satu wilayah Port-au-Prince, Petionville, bagian wilayah yang
terbilang elite, di mana para diplomat dan warga kaya Haiti bermukim,
sebuah rumah sakit roboh dan beberapa rumah hancur serta terjerembap
puing-puingnya ke dalam sebuah jurang.

Juru bicara Departemen
Luar Negeri AS PJ Crowley menjelaskan, pihak Kedutaan Besar AS di Haiti
telah mulai menghubungi warga AS yang menetap di Port-au-Prince. Namun,
komunikasi ini terhalang oleh lumpuhnya fasilitas komunikasi ataupun
terputusnya jalur jalan menuju lokasi bencana pascagempa bumi.

“Kerusakannya
signifikan. Sebagian besar tembok roboh. Sebagian besar orang tewas
tertimbun oleh puing-puing bangunan,” kata Crowley. “Kerusakan di sana
benar-benar signifikan.”

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.